Redaksi | Pedoman Media Siber | Disclamair | Kontak
Pengembangan Pariwisata Kawasan Danau Toba, ala "COPY PASTE"

Redaksi
Selasa, 01 Okt 2019 12:00 WIB | dilihat: 17029 kali

Pekanbaru, RiauBangkit.Com - Industri Pariwisata Danau Toba cenderung lamban dan sulit maju karena kebanyakan "Copy Paste" produk Lokal. Hal itu disampaikan Rismon Raja Mangatur Sirait yang dikutip www.riaubangkit.com dari kanal facebook milik Rismon, Selasa, 24/09/2019.

Menurut Rismon,  Walau kunjungan Turis turun dan naik, tapi sampai sekarang belum bisa mendongkrak kunjungan Wisatawan Mancanegera dari Eropa dan America. Katanya, Sekarang ini sudah jarang terihat seperti Group De Boer Belanda  yang datang ke Danau Toba dua kali seminggu dengan masa stay hingga 5 (lima) Hari yang sudah terprogram perjalanannya di Kawasan Danau Toba. 

Karena menurut pandangannya,  bahwa para Pelaku Pariwisata hanya menjual produk yang sama. sehingga akan menciptakan adanya persaingan antar daerah. 

Seharusnya Pemerintah Pusat, Propinsi dan Pemerintah Kabupaten yang ada di Kawasan Danau Toba itu memberikan solusi atau meminta usul kepada masyarakat apa yang sepantasnya dibuat dan dikembangkan. Namun sayang, hingga saat ini, meski Pemerintah telah mengelontorkan Dana puluhan Triliun Buat Danau Toba, Dana-dana tersebut masih digunakan buat pembangunan Infrastruktur.

Rismon mengaku, disatu sisi memang Infrastruktur adalah faktor paling utama dalam pengembangan Pariwisata Danau Toba. Namun perlu dilihat juga,  aktifitas apa saja yang menarik di objek yang mau dilihat atau dinikmati pengunjung. 

Dia menjabarkan, bahwa Sejak Tahun 1980-an hanya satu Pertunjukan Patung Sigale-gale yang dapat kita jumpai di Objek Wisata Tomok Kecamatan Simanindo,  Kabupaten Samosir. Tak lama kemudian di Huta Sidauruk Kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir, juga ada pertunjukan Patung Sigale-gale walau hanya bagian akhir dari pertunjukan Tor-Tor live karena sudah rutinitas tiap hari. 

Seiring waktu berjalan persaingan usaha bisnis Pariwisata lokal menjadi momok, seperti dikarbit untuk meraih keuntungan dengan melupakan kebersamaan dan menghargai pendahulu pembuat pertunjukan Patung Sigale gale. 

Tahun 2000 an Pertunjukan Patung Sigale-gale berkembang lagi menjadi 3 tempat show di Desa Wisata Tomok yang sebelumnya hanya satu tempat,  dengan menjual konsep yang sama. 

Sekitar Tahun 2016 sampai sekarang Pertunjukan Patung Sigale Gale sudah dibuat lagi di Desa Siallagan Kecamatan Simanindo Kabupaten Samosir dengan menjiplak yang di Desa Tomok. Desa Siallagan yang nota bene sebelumnya hanya menjual Desa wisata Rumah Batak Raja Siallagan dan Stone Chair (Batu Kursi) serta cerita pengadilan Ala Batak Zaman Dahulu yang di diskreditkan Suku Batak pernah menjadi Kanibal(Pemakan Manusia) 

Seiring perjalanan waktu Tahun 2000 an para Pemuka Agama dan perantau mencoba mengangkat satu Daerah menjadi Wisata Rohani yaitu di Kabupaten Dairi tepatnya di Sidikalang.

Padahal kita sebelumnya sudah mengetahui ada tempat Wisata Rohani di Kabupaten Tapanuli Utara sejak Tahun 1980 an yaitu Salib Kasih Tarutung.

 

Belakangan ini kembali main jiplak lagi untuk meningkatkan kunjungan Wisatawan ke Danau Toba Perantau dan Pemuka Agama serta Pemerintah di Kawasan Danau Toba, sudah ada dan ada yang mau berencana membuat Patung Yesus setinggi 75-100 m di beberapa Kabupaten, seperti :

1.Kabupaten Tapanuli Utara (Bangunan Patung Yesus masih mangkrak sejak Tahun 2013 sampai sekarang)

2.Kabupaten Humbahas(sudah masuk usulan rencana) 

3.KabupatenToba Samosir(bermasalah)

4.Kabupaten Samosir (sudah peletakan batu pertama Tahun lalu di Harian Boho tapi karena Dana tidak ada sementara mangkrak) 

5.Kabupaten Dairi (Sudah ada di Wisata Rohani Sitinjo)

Dengan terjadinya budaya tiru-meniru tersebut. Kemudian Rismon bertanya-tanya. Apakah hanya menjiplak kemampuan Suku Batak? Apakah kemampuan kita seperti  Penjual Tuak yang di satu Kampung?. Karena, bila kita ke kampung di Bonapasogit bisa 2-4 Kedai Tuak yang tidak berjauhan dalam satu Dusun.  Pertunjukan musik juga begitu dibuat dengan tajuk yang sama, pagelaran Budaya juga semua hampir sama tidak kreatif, variatif dan inovatif. 

Menurut Rismon, Kawasan Danau Toba itu sudah seharusnya memiliki Gedung Pertunjukan tertutup. Bisa bekapasitas 300 tempat duduk atau 2000 tempat duduk dengan bangunan yang eksklusif. 

Di Tahun 2019 ini ada lagi Camping massal di Pinggiran Danau Toba dengan 2000 Tenda di Desa Meat Kecamatan Tampahan Kabupaten Samosir yang sudah terlaksana. Padahal program ini sudah ada di Kabupaten Dairi yaitu di pinggiran Danau Toba Desa Paropo sejak 6 Tahun lalu dan selalu dilaksanakan tiap Tahun. 

Untuk itu Rismon berharap, agar seluruh stakeholder lebih Kreatif dan tampil beda untuk memajukan Pariwisata Danau Toba. Karena menurutnya, bagaimana jadinya nanti kalau tiap Objek Wisata yang dijual hanya Patung Sigale-gale diseluruh Kawasan Danau Toba (Patung sigale gale nise ma annon laku ateh) .  Ibarat contoh kecil, jual mangga jangan hanya menjual mangga mentah saja, sebelum busuk dibuatlah jadi cemilan / kerupuk Mangga, atau Wine Mangga, agar kedepan tidak ada lagi issu di Danau Toba menjual Mangga busuk. Varian itu lah yang disukai Turis berkelas. 

Untuk itu Rismon Raja Mangatur Sirait berharap agar dihilangkan istilah "Asal ma jadi hepeng manang parsahalian" Dan Rismon juga memohon maaf jika ada yang salah serta silahkan komentari dengan santun dan silahkan Pemirsa berikan usulan yang kreatif melalui wa 0812-6339-5600 ( Rismon Raja Mangatur Sirait), demi membantu Pengembangan Pariwisata Kawasan Danau Toba.  ***



Rekomendasi untuk Anda


Connect With Us





Copyright © 2015 riaubangkit
All right reserved