Redaksi | Pedoman Media Siber | Disclamair | Kontak
Pancur Si 7 Dai Peninggalan Leluhur Si Raja Batak Pada Keturunannya

Drs PH Sitompul
Minggu, 17 Nop 2019 12:00 WIB | dilihat: 30758 kali

SAMOSIR, Riaubangkit.com – Pulau Samosir menurut wikipedia adalah sebuah pulau vulkanik di tengah-tengah Danau Toba yang terletak di Provinsi Sumatera Utara. Sebuah pulau dalam pulau dengan ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut, menjadi sebuah pulau yang sangat menarik perhatian bagi para turis baik itu turis mancanegara maupun turis lokal. 

Pulau Samosir sendiri terletak didalam wilayah Kabupaten Samosir yang pada tahun 2004  dimekarkan dari Kabupaten Toba-Samosir.  Kabupaten Samosir sejak dimekarkan selalu melakukan pembenahan baik dibidang pembangunan jalan, gedong perkantoran dan pertanian dimana diantaranya pertanian kopi, padi, jagung, bawang dan lain-lainnya. Selain itu pembenahan dibidang pariwisata sangat diperhatikan, dimana Kabupaten Samosir memiliki banyak objek wisata diberbagai tempat.

 Di pulau ini terdapat juga dua buah danau kecil yang juga difungsikan sebagai daerah wisata yaitu Danau Sidihoni dan Danau Aek Natonang yang mendapat julukan "Danau Di Atas Danau". 

Pintu gerbang masuk ke Pulau Samosir salah satunya adalah dari Tomok, yang merupakan salah satu desa yang terletak di daerah Pulau Samosir dengan Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Tomok adalah pintu gerbang untuk memasuki pulau Samosir melalui Pelabuhan Ajibata, Parapat. 

Selain itu untuk kedaerah ini, bisa juga melalui jalur darat yaitu Tele. Untuk mencapai Tele apa bila dari Kota Medan adalah dengan melalui Kabupaten Karo yang selanjutnya menuju Kabupaten Dairi. Dimana sepanjang jalan para turis baik itu lokal maupun mancanegara akan dimanjakan dengan pemandangan indah sepanjang jalan sebelum sampai ke Kabupaten Samosir. Samosir sendiri dikelilingi oleh Danau Toba, yang merupakan  danau terbesar kedua di dunia. 

Samosir memilki 9 kecamatan yaitu Kecamatan : Simanindo, Pangururan, Palipi, Nainggolan, Onan Runggu, Sitio-tio, Sianjur Mula-mula, Harian, dan Kecamatan Ronggur Nihuta. Tiap Kecamatannya memiliki bergudang-gudang lokasi yang layak dijual sebagai Objek Wisata yang sangat menakjubkan, baik itu berupa Panorama Alam maupun dengan adanya situs-situs budaya yang merupakan peninggalan nenek moyang. 

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir yang mengandalkan daerahnya sebagai daerah tujuan Pariwisata memiliki Komitmen untuk mengembangkan objek wisata yang ada dengan melakukan pembenahan dan pembangunan serta melaksanakan rehabilitasi atas objek wisata yang ada agar layak jual dan memiliki daya tarik tersendiri untuk dikunjungi baik oleh turis lokal maupun pemerhati budaya dari Mancanegara, begitulah diungkapkan Drs.Juniar Limbong kepada Horas.com baru-baru ini. 

Juniar sendiri telah puluhan tahun tinggal di Medan sejak kuliah dan saat ini mengabdi menjadi guru yang saat ini di SMP Negeri 32 Kota Medan  merupakan anak mendiang Oppung Bona Limbong (J.D.

Limbong) penduduk Desa Sipitudai Kecamatan Sianjur Mula-mula yang semasa hidupnya dikenal sangat mengerti dan tahu akan keberadaan “Aek Sipitu Dai” dan dipercaya memiliki hubungan khusus dengan penghuni yang bermukim di “Aek Sipitu Dai” .

           Juniar Limbong yang rumah orangtuanya terletak tepat didepan “Aek Sipitu Dai” dan kerap menjadi tempat bertanya baik oleh para pengunjung yang mendatangi Objek tersebut buat sekedar berdarmawisata maupun oleh orang-orang yang memiliki kemampuan untuk mengobati secara Supranatural atau mistis menceritakan kepada Horas.com menceritakan bahwasanya air tersebut walau berasal dari satu tempat yang sama dan dibagi menjadi 7 (Tujuh) Corong Pancur. Akan tetapi dari ketujuh corong pancurnya memiliki rasa yang berbeda-beda serta dipercaya memiliki berbagai khasiat baik itu untuk memberikan rejeki pada penggunanya maupun sebagai ramuan utama untuk membuat obat tradisional yang sifatnya penuh dengan nuansa mistis dan sulit dipercaya dengan akal sehat. 

            Disebutkan pula bahwa dahulunya ditempat sumber mata air itu sendiri merupakan lokasi para tetua maupun sesepuh kampung itu guna membahas segala apa yang terjadi dan bakal terjadi guna mengambil solusinya. Hal itu mereka lakukan, sembari mandi dipancur yang tersedia dan memakai pancur menurut posisinya sesuai adat kekerabatan dikampung tersebut apakah dia boru (memperisteri wanita keturunan Oppu Guru Tatea Bulan) ataupun kaum lelaki yang merupakan keturunan Guru Tatea Bulan.

            Ditempat ini jugalah para orang tua membahas dan membuat rencana kapan merendam benih, melakukan penyemaian, melaksanakan penanaman, meramal sifat maupun rejeki anak baru lahir. Hal itu dilaksanakan berdasarkan waktu lahirnya baik itu Jam,Tanggal, Hari, Bulan, serta Tahun berdasarkan penanggalan hari-hari yang ada dan dipercayai suku Batak dan semuanya beraksara Batak.

            Juga disini juga dibahas baik itu mengenai perkembangan desa, sifat maupun tingkah laku masyarakatnya. Ditempat ini juga dibahas cara terbaik untuk menangkal hama, pemakaian tali air, pembuatan jalan desa, atau ladang serta tanggal yang tepat untuk melaksanakan upacara adat perkawinan bagi anak yang akan berumah tangga baik itu anak lelaki maupun anak perempuan yang dilaksanakan secara adat Batak.

            Adapun susunan pancur berdasarkan letak dan penggunaannya adalah: 

Pancur I ini merupakan Aek Poso yang khusus dipergunakan bagi kaum Ibu untuk memandikan kaum anak-anak yang belum memiliki gigi, karena anak-anak tersebut tidak bisa dibawa kemata air.

Pancur II ini diperuntukkan buat pemandian kaum Ibu yang telah berusia Uzur atau tidak bisa lagi melahirkan maupun bagi para wanita mandul.

Pancur III ini merupakan buat pemandian kaum Ibu muda yang sedang mengandung atapun kaum Ibu yang masih ada harapan untuk mengandung/melahirkan.

Pancur IV ini disebut Paridian Sibaso (Pemandian bagi kaum Wanita yang berprofesi sebagai Pengobati ) yang khusus berpropesi untuk membantu persalinan bagi kaum Ibu, letaknya mengarah kepembuangan karena Sibaso biasanya memegang anak-anak yang kotor (Proses Persalinan)

Pancur V ini disebut Paridian Pangulu yang merupakan tempat pemandian kaum lelaki yang sudah berusia tua dan uzur yang merupakan keturunan Oppung Guru Tatea Bulan.

Pancur VI ini disebut Paridian Doli merupakan tempat pemandian kaum Lelaki muda keturunan Oppung Guru Tatea Bulan.

Pancur VII disebut Paridian Hela yaitu pancur yang khusus dipakai bagi kaum lelaki yang memperisteri wanita keturunan Oppung Guru Tatea Bulan.

Disampaikan pula bahwa dalam perjalanan hidup orangtuanya sebagai orang yang dipercaya memiliki kemampuan supranaturtal dan sering menjadi tempat bertanya bagi orang yang memiliki kemampuan supranatural dan sering memanfaatkan Aek Sipitu Dai sebagai ramuan utama obatnya, orangtuanya Oppung Bona Limbong sudah sering merasakan bagaimana khasiat supranatural dari air tersebut baik itu untuk dirinya dan keluarganya maupun orang-orang yang datang padanya untuk berobat. 

Sementara itu Robert Pasaribu yang merupakan warga Sibolga dan sering memakai air tersebut sebagai ramuan obatnya, memberi apresiasi atas perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir atas situasi tersebut. Pasaribu menceritakan juga bahwa apresiasi yang diberikan Pemkab Samosir adalah dengan rutin baik itu membuat perawatan atas bangunan situs tersebut dan membangun sarana transportasi jalan.

Pantauan Horas.com Pemkab Samosir sering memberi perhatian atas keberadaan situs “Aek Si7 Dai” tersebut, baik itu atas sarana jalan menuju kelokasi maupun memberi perhatian dengan melaksanakan rehab atas bangunan disitus sehingga membuat kenyamanan dan keindahan atas objek wisata tersebut bagi turis-turis baik itu turis lokal maupun turis mancanegara. (Polim)

Keterangan Foto IMG:  Pemandian Aek Sipitu Dai setelah selesai dipugar dengan latar depan penulis saat berkunjung dengan pakaian warna hijau. (Limbong) 



Rekomendasi untuk Anda


Connect With Us





Copyright © 2015 riaubangkit
All right reserved