Redaksi | Pedoman Media Siber | Disclamair | Kontak
SISTEM DEMOKRASI TELAH RUSAK

redaksi
Selasa, 31 Okt 2023 06:54 WIB | dilihat: 100279 kali

"Masa sekarang, pondasi cara bernegara jadi ruwet, susunannya tidak teratur. Sistem Rusak. Faktanya, MK berubah alirannya "Paham Keluarga."

 

Penulis: Rusdianto Samawa, Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Mataram

 

Dulu, 2014 adagium politik Jokowi "mau dipasangkan dengan sandal pun tetap menang." Mengapa? karena akar kerakyatan melekat. Ternyata akar itu tercerabut seiring waktu berjalan masa pemerintahannya. Mengapa? karena Jokowi menganut paham pencitraan belaka, machiavelian, oligarkis dan monopoli arus informasi dalam mengelola kekuasaan melalui UU ITE.

Pada 2019, lebih parah. Manajemen kekuasaan sangat rusak: penangkapan oposisi, penjara menanti yang berbeda dalam argumentasi, AMDAL dicabut, UU Omnibuslaw yang rusak itu, ekspor pasir laut, skandal korupsi dalam batang tubuh istana (kementerian/KL). Terakhir lebih sadis dan sarkastik, mengunakan Mahkamah Konstitusi memuluskan pencawapresan anaknya. Sekarang, MK berubah jadi Mahkamah Keluarga. Penamaan MK bentuk lain, respon protes serius rakyat terhadap sikap machiavelian Jokowi.

Ternyata, 2019 itu pula, pasca Prabowo kalah di ruang sidang Mahkamah Konstitusi masa itu, Prabowo lakukan langkah maju masuk pemerintahan. Langkah itu, dinilai oleh emak - emak dan oposisi sebagai bentuk penghianatan perjuangan.

Duh nian, dibalik gabungnya itu, ada isu yang berkembang, bahwa Prabowo masuk pemerintahan dengan standar ganda diberikan kepada Jokowi yakni harus mendukungnya pada 2024 menjadi Presiden. Jokowi pun berlakukan standar yang sama kepada Prabowo yakni Gibran Rakabuming Raka harus menjadi Cawapresnya. Deal. Mereka pun tos - tosan dikereta MRT pada 2019 itu.

Langkah selanjutnya, Gibran pun dipersiapkan menjadi Walikota Solo. Gibran jadi Walikota selama 2 tahun. Bicara pengalaman jadi cawapres, tentu rakyat ragu akan kemampuannya.

Mahkamah Konstitusi pun bergerak sesuai alur yang telah diatur. Strategi.sampingan, mainkan 3 periode (gagal), Jegal Anies Baswedan (gagal). Setelah itu, masuk pada strategi utama dalam perang politik kekuasaan, yakni menghakimi, memenjarakan dan membenamkan siapapun.yang berbeda dengan arus kekuasaannya. Penegak hukum pun melaju kencang menerapkan standar ini. Sesuai pesanan kekuasaan. Bahkan, kasus korupsi yang riskan menyentuhnya dihilangkan jejaknya.

Belum sebulan lalu, MK memutuskan berpengalaman menjadi kepala daerah bisa menjadi Cawapres. Lalu hitungan hari deklarasi pasangan Prabowo - Gibran. Herannya lagi, kewarasan sebagian oposisi hilang kendali akal sehatnya. Karena oposisi yang masuk dalam team pemenangan Prabowo secara terbuka dan gila-gilaan bela Gibran sebagai tokoh kaum muda. Heheh

Padahal dulu mereka oposisi terhadap Jokowi mengkritik oligarki, sistem politik keluarga, dan merusak ruang demokrasi. Lha, sekarang ini kemana arah kiblat akal sehat para oposisi ini. Malah lebih parah, perkuat sikap politik keluarga Jokowi dan ekspresif machiavelian totalitas. Begitulah, oposisi akal karbitan.

Seiring waktu, deklarasi Prabowo - Gibran juga menuai problem solving yang massif. Pandangan rakyat berubah drastis yang menganggap Prabowo hanya mau enaknya saja dengan fasilitas kekuasaan semata. Prabowo tak ada lagi pidato berapi-apinya sebagai semangat perubahan Indonesia. Prabowo sekarang menjadi buah bibir rakyat yang digambarkan seperti siluet "orang duduk manis menanti jajan yang akan diberikan."

Bahkan, deklarasi Prabowo - Gibran ikut pengaruhi transaksi ekonomi dan kurs yang mengalami penurunan tajam sebesar 1,17% ke level 6.769,26 poin. Selain itu, mata uang Rupiah Indonesia (IDR) juga melemah, mendekati level psikologis baru di Rp15.935 /US$, mengalami penurunan dan menjadikannya mata uang paling lemah di kawasan Asia.

Keputusan Prabowo gandeng Gibran sebagai cawapres di…



Connect With Us





Copyright © 2015 riaubangkit
All right reserved