Redaksi | Pedoman Media Siber | Disclamair | Kontak
Terjadi di Kelurahan Toba Pematang Siantar
Pendirian Tower Tanpa Musyawarah, Warga Protes


Senin, 26 Mar 2018 12:00 WIB | dilihat: 181597 kali
Foto:

Pendirian Tower Tanpa Musyawarah, Warga Protes



RiauBangkut.com, Siantar. - Puluhan warga yang didominasi kaum ibu nekat menghadang truk molen yang akan memasuki lokasi pembangunan pendirian Tower Telekomunikasi di Daerah Aliran Sungai (DAS), Kelurahan Toba, Kecamatan Siantar Selatan, Rabu (21/3) sekira jam 10.00 Wib. Selain pendirian tower disebut dilakukan tanpa musyawarah dengan warga secara menyeluruh, para kaum ibu juga mengaku khawatir dengan radiasi yang bakal terjadi dari pemancar tersebut. Apalagi, tidak jauh dari lokasi ada umbul (mata air) yang dijadikan warga sebagai tempat mandi dan mencuci. Warga juga berkeberatan, karena sebelumnya puluhan gubuk sudah digusur Pemko Siantar melalui Satpol PP, dengan alasan kawasan itu merupakan DAS.

“Kenapa gubuk tempat tinggal warga digusur. Tapi, pendirian tower diizinkan? Apakah karena rakyat kecil tidak punya kekuatan?” papar seeorang ibu yang bermarga Boru Sihombing.

Sebelumnya,  warga mengaku sempat kecolongan karena satu unit truk molen masuk membawa semen untuk mengecor pertapakan tower. Tapi, saat truk lain ingin masuk, kaum ibu langsung menyusun bebatuan besar di badan jalan dan berdiri menghadang sembari membentangkan poster bernada protes.

Tindakan itu tak ayal membuat truk terpaksa mundur. Tak lama kemudian, beberapa personel Kepolisian datang ke lokasi diiringi Lurah Toba, L Gultom, untuk menyenangkan situasi.
Namun, upaya tersebut mendapat perlawanan dari kaum ibu sehingga sempat terjadi perdebatan.

“Kenapa hanya sebagian yang diundang melakukan rapat di kantor Lurah???
Apakah kami tidak dihitung sebagai warga di sini?”
Sergah ibu Boru Batubara yang sudah berusia 75 tahun.

Ibu yang mengaku sudah tinggal di Kelurahan Toba sejak tahun 1958 itu mengatakan, apa yang dilakukan pihak perusahaan untuk mendirikan tower sangat tidak menghargai masyarakat sekitar.
Untuk itu, pemerintah harus berpihak kepada rakyat. Bukan berpihak kepada perusahaan.

“Kami minta supaya walikota mendengar rakyat kecil ini,” kata Boru Batubara sembari berjalan tertatih-tatih dan kondisi itu juga dilakukannya kalau hendak mandi dan mencuci di umbul yang harus melewati lokasi pembangunan tower.
Sementara pihak kepolisian terlihat berusaha menenangkan warga.

“Kalau tower ini sudah berdiri, ke mana lagi warga mandi dan mencuci?” Tanyanya, dengan nada kesal.

Meski begitu, pihak kepolisian akhirnya berhasil menenangkan warga. Meski dengan berat hati, warga kemudian membuka blokir jalan memperbolehkan truk molen masuk ke lokasi. Menurut Iis sebagai pengawas lapangan, mereka akan rugi kalau semen yang dibawa tidak dicurahkan karena akan membeku.



Selanjutnya, Lurah L Gultom meminta kepada warga menyerahkan data 41 kepala keluarga yang menandatangani penolakan pembangunan tower. Data itu kata Lurah akan diserahkan kepada pihak perusahaan yang sudah dihubunginya melalui telepon seluler.

“Saya sudah menghubungi pihak perusahaan langsung. Katanya dia akan datang kesini menemui masyarakat. Pokoknya, keberatan bapak dan ibu bisa disampaikan kepada perusahaan yang sudah berjanji akan datang dari Medan,” katanya kepada warga.

Masih menurut Gultom, sebelum rencana pendirian tower setinggi 31 meter tersebut, pihaknya sudah mengundang warga untuk melakukan rapat. Tapi, dia heran mengapa masih ada keberatan. “Saya lupa kapan rapat itu. Tapi, rapat dilakukan di kantor lurah,” ujarnya.

Gultom juga mengatakan bahwa ada peraturan menteri terkait dengan pembangunan tower. Tapi, ketika ditanya bagaimana bunyinya, Gultom hanya mengatakan bahwa masyarakat yang menjadi perhatian perusahaan pendiri tower hanya dalam radius 31 meter dan itu sesuai dengan tinggi tower.

Selanjutnya, lurah yang menurut masyarakat tidak bermukim di Kelurahan Toba tersebut, segera berlalu untuk menghindari pertanyaan lebih lanjut. Seiring lurah yang meninggalkan lokasi aksi, pihak kepolisian juga melakukan hal serupa.

Sementara, warga tetap berjaga-jaga sembari menunggu kehadiran pihak perusahaan yang disebut lurah. Kemudian, dua unit truk molen diperbolehkan warga meninggalkan lokasi pembangunan tower. Namun, hingga jam 17.30 wib kemarin, pihak perusahaan yang disebut lurah akan datang, tak kunjung hadir. Sedangkan masyarakat semakin ramai dan tetap bertekad menolak pendirian tower.

“Lurah itu berbohong katanya perusahaan mau datang. Nyatanya apa? Sampai sekarang tidak ada pun satu yang datang menemui kami,” kata warga.

Warga mengatakan akan terus melakukan aksi penolakan tersebut sampai pembangunan tower dihentikan.
Mereka juga berencana menemui walikota agar mengetahui penderitaan yang dialami warganya.
(Amos/OS).



Rekomendasi untuk Anda


Connect With Us





Copyright © 2015 riaubangkit
All right reserved