Home / Budaya Batak

Manguji Nababan : Orang Batak, Maliali Secara Kultural
Penulis: PH Sitompul | Kamis, 23 Januari 2020 | 17:30 WIB Dibaca: 350 kali

Manguji Nababan bersama Kapolda Sumut Martuani Sormin dalam satu kesempatan


Medan - Peradaban dan kehidupan masyarakat Batak terus mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Sayangnya perubahan yang dialami masyarakat suku yang berasal dari Sumatera Utara ini, cenderung lari dari nilai luhur 'habatahon-nya'.

"Orang batak sebenarnya sudah yatim piatu atau Mali-alidari sisi kebudayaan. Tidak lagi bisa berdiri dalam tatanan habatahon," kata Kepala Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Kebudayaan Batak Universitas HKBP Nommensen Medan, Manguji Nabanan kepada PelitaBatak.com, Rabu (22/1/2020).

Dijelaskan, kondisi saat ini seseorang disebut Batak hanya karena memiliki marga, bisa sedikit berbahasa batak. Namun tidak mengerti apa nilai luhur yang dia miliki sesungguhnya. Internalisasi nilai Batak sesungguhnya tidak lagi diamalkan keturunan bangso Batak dalam kehidupannya, masa kini.

Globalisasi memaksa orang Batak untuk mampu beradaptasi dan melebur dalam lingkungan masyarakat modern, jauh lebih luas dari kehidupan ikatan berbangsa dan bernegara.

Sejak awal, orang Batak memang terkenal dengan jiwa persahatannya dengan mudah berbaur dengan siapa saja. Namun, era ini tidak lagi hanya 'Si Boru Puas Si Boru Bakkara, Molo Dung Puas Sae Soada Mara'.

Terlebih dalam menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan bermasyarakat, semestinya orang Batak harus mampu lebih banyak mendengar, kemudian bertanya hal-hal yang belum tepat dipahami dengan benar.

Manguji mencontohkan, bagaimana bangsa lain dengan tetap mempertahankan nilai luhur kebudayaannya. Katakan, Jepang dan Korea. Mereka bukan tidak menganulir kehidupan modern, namun tetap menanamkan makna dan arti luhur budaya mereka. Demikian halnya dengan kebudayaan Batak, harus bisa disejajarkan dengan nilai universal.

Keterampilan orang batak beradaptasi, kerap terjadi adaptasi kebablasan. Saat orang Batak tinggal di Sumatera Barat misalnya, anak-anaknya akan lebih pintar bahasa setempat dari bahasa Batak. Juga menjadi sisi negatif akan lemahnya menanamkan kepribadian habatahon di generasi orang Batak ke depan.

Untuk Sumut sendiri, orang Batak harus menilik labih dalam lagi nilai luhur habatahon sesungguhnya. Membully bukan tradisi kita. Sedikit kesalahan orang lain, tidak harus ditanggapi dengan spontan. "Sise do mula ni hata, sungkun mula ni uhum. Jika ada yang janggal, mari gali informasinya. Tanyakan kepada yang bersangkutan," ujarnya.

Mental habatahon harus dikembalikan kepada generasi berikutnya. Peran orang tua, lanjut Manguji, sangat diperlukan. "Dirgak do eme na lapungon, unduk do eme naporngis. Bagaimana mana padi yang berisi akan semakin menunduk, demikian lah kiranya kita orang Batak. Nilai ini harus disampaikan orangtua, para tokoh adat, lembaga adat, maupun gereja," ujarnya.

Orang Batak, lanjut Manguji, dikatakan berhasil jika bermanfaat bagi oang lain. Diawali dari bermanfaat bagi orangtuanya, adik-adiknya, keluarga dan masyarakat. "Untuk masa kini, orang batak diaspora yang sudah menyebar dimana-mana dikatakan berhasil jika memiliki nilai tadi serta peduli ke kampung halamannya, bona pasogit," ujarnya.

Saat ini, tidak sedikit orang Batak berhasil menjadi tokoh nasional, bahkan pengusaha di berbagai negara luar. Namun tidak memperhatikan kampung halamannya, secara umum Sumatera Utara. Perilaku ini bukan tujuan orang Batak merantau diberangkatkan orangtuanya dari kampung halaman.

Penggalan lirik lagu 'Lupa Do Ho' : Makkirim do sude, haha anggi iboto mi. Anggiat sahat ho hasian, tu tinodo ni rohami. Anak siparbagaon tahe, sian na dihutai. Ai tung makkirim do, sude amang digogo mi.Merupakan gambaran doa untuk perantau, agar mengingat kampung halamannya yang masih jauh dari kemajuan. Perhatian dan topangan para perantau orang Batak sangat dibutuhkan untuk bona pasogit. (Rel/TAp)

[ Kembali ]
Berita Terkait
Rabu, 12 Pebruari 2020 | 19:29 WIB
Festival Gondang Naposo
Kamis, 23 Januari 2020 | 17:30 WIB
Manguji Nababan : Orang Batak, Maliali Secara Kultural
Kamis, 23 Januari 2020 | 17:30 WIB
Manguji Nababan : Orang Batak, 'Maliali' Secara Kultural
Minggu, 17 Nopember 2019 | 18:16 WIB
Pancur Si 7 Dai Peninggalan Leluhur Si Raja Batak Pada Keturunannya
Selasa, 01 Oktober 2019 | 04:37 WIB
Pengembangan Pariwisata Kawasan Danau Toba, ala "COPY PASTE"
Rabu, 19 Juni 2019 | 16:00 WIB
SEJARAH ASAL SUKU BATAK
Selasa, 11 Juni 2019 | 22:07 WIB
Lestarikan Adat dan Budaya Batak,
Doa Syukuran Raja Sianturi Lumban Gambiri se-Indonesia, Berlangsung Meriah
Minggu, 27 Januari 2019 | 16:20 WIB
Sikorem Sitompul Terpilih Jadi Ketua Punguan Sitompul dan Boru Pekanbaru
Kamis, 19 April 2018 | 04:57 WIB
Wisata Sumatera Utara
Tempat Wisata di Balige Menambah Pesona Indahnya Kawasan Danau Toba
 
Indeks Berita | Indeks Foto | Indeks Terpopuler | Redaksi
2015 All Rights Reserved | Riau Bangkit